SPBU Curang Tertangkap, Pasang Alat Adaptor di Jaga 24 jam Keuntungan Mencapai 1,97 Miliar

LEBAHpers – Kasubdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Ganis Setyaningrum mengatakan, untuk menutupi kecurangannya, pengelola sebuah SPBU di daerah Ciputat menjaga alat pengurang takaran bahan bakar minyak  BBM  yang mereka pasang, selama 24 jam secara bergantian.

“Mereka (pengelola) membuat jadwal jaga untuk menjaga alat itu selama 24 jam,” ujar Ganis, di Mapolda Metro Jaya, pada hari Senin (30/4/2018).

Ganis menambahkan, jika ada orang yang dirasa mencurigakan, pengelola akan mematikan alat itu dengan remote khusus dari jarak sekitar 30 meter lebih kurang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, karena pola pemantauan yang sangat ketat, aksi curang pengelola berlangsung selama tiga tahun lebih, dan menghasilkan keuntungan yang lumayan besar.

“Ini ada dua TKP. Untuk TKP yang di Ciputat, Tangerang Selatan, pengelola dapat mengantongi untung Rp 55.968.000 sebulan. Padahal, mereka sudah beraksi selama 3 tahun. Keuntungan total Rp 1,99 miliar,” ujar Argo.

Di SPBU ini, lanjut Argo, pengurangan takaran BBM dengan alat yang dipasang pengelola mencapai 400 hingga 1.148 mililiter, setiap pembelian 20 liter BBM.

“Dalam kasus ini, kami mengamankan Manager Pengawas SPBU berinisial RLN, Pengawas SPBU berinisial SHD dan AN, Pengawas Bagian Keuangan SPBU berinisial AY. Sedangkan pengontrak SPBU berinisial DS dan teknisi berinisial KML, masih dalam pencarian,” ujar Argo.

Untung Besar Total Rp 1,99 Miliar

pengelola SPBU di Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan mendapatkan keuntungan besar dengan memasang alat pengurang takaran BBM.

“Untuk tempat kejadian perkara (TKP) di Ciputat, Tangerang Selatan, pengelola dapat mengantongi untung Rp 54,9 juta dalam sebulan. Padahal mereka sudah beraksi selama 3 tahun. Keuntungan total Rp 1,99 miliar,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2018).

Sementara pengelola sebuah SPBU di Kabupaten Tangerang dapat mengantongi keuntungan hingga Rp 932,9 juta selama satu tahun beraksi.

“Mereka ini pengelola swasta, mereka sistem sewa tanah untuk mendirikan SPBU ini. Kami masih menelusuri darimana mereka mendapatkan alat pengurang takaran BBM tersebut,” kata Argo.

Argo mengatakan, kasus pengurangan takaran BBM di kawasan Kabupaten Tangerang terungkap pada 18 April 2018.

Dari lokasi ini diamankan AIS yang merupakan direktur SPBU, manajer operasional berinisial AR, manajer pengawas berinisial DT, kepala pengawas berinisial TR, serta pengawas SPBU berinisial MS, H, dan T.

Pihak SPBU, kata dia, memasang alat menyerupai adaptor yang dipasang di jaringan listrik dan dikendalikan saklar.

“Dengan dipasangnya alat ini, rata-rata pengurangan BBM jenis pertamax, pertalite, dan solar antara 104 sampai 1.099 mililiter per 20 liter pembelian bahan bakar,” ujarnya.

Argo menambahkan, lokasi kedua adalah sebuah SPBU yang berada di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Berbeda dengan lokasi sebelumnya, di SPBU ini, pengelola menggunakan alat tambahan berupa seperti adaptor untuk mengurangi takaran BBM.

Namun, dikendalikan dengan remote khusus.

“Pengelola dapat mengendalikan alat itu dari jarak sekitar 30 meter dari SPBU. Di SPBU ini pengurangan takaran BBM mencapai 400 hingga 1.245 mililiter setiap pembelian 20 liter BBM,” kata Argo.

Di lokasi ini, polisi mengamankan manajer pengawas SPBU berinisial RLN, pengawas SPBU berinisial SHD dan AN, pengawas bagian keuangan SPBU berinisial AY.

Polisi masih mencari pengontrak SPBU berinisial DS dan teknisi berinisial KML.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: