Bripka Iwan Sandera yang Berhasil Diselamatkan Dari Napi Teroris di Mako Brimob Memberikan Kesaksian, Ini Videonya!

LEBAHpers – Bripka Iwan Sarjana merupakan satu-satunya sandera yang berhasil selamat dalam insiden serangan napi teroris di Mako Brimob beberapa waktu yang lalu.

Dengan wajah dan tubuh yang masih dibalut perban, Bripka Iwan Sarjana memberikan kesaksian atas kekejian para napi teroris yang telah membunuh 5 orang rekan-rekannya.

Pantauan Lebahpers.com, hal tersebut disampaikan secara live oleh Bripka Iwan Sarjana melalui acara Indonesia Lawyers Club yang disiarkan TvOne, Selasa (15/5/2018).

Terbaring di ranjang rumah sakit, Bripka Iwan Sarjana mengungkap hal yang ia alami selama menjadi sandera di Mako Brimob.

Bripka Iwan Sarjana mengaku jika saat disandera matanya ditutup, tangan dan kakinya diikat oleh para napi teroris.

“Saat disandera, saya ditutup mata saya, tidak bisa melihat tidak bisa bergerak, kaki diikat, tangan diikat,” tutur Bripka Iwan.

Bripka Iwan kemudian mengatakan bahwa seorang teroris memberitahu kepada rekannya, kalau juniornya, yang disandera telah dieksekusi karena menolak diinterogasi.

Menurut Bripka Iwan, teroris tersebut berkata jika rekannya meminta untuk ditembak mati dari pada diinterogasi polisi.

“Saya mendengar salah satu teroris itu bicara, bahwa adekmu yang masih muda itu, telah dieksekusi, karena interogasi tidak mau, dia meminta langsung saja ditembak mati dari pada diinterogasi, seperti itu,” jelasnya.

Kondisi Bripda Iwan saat dibebaskan teroris

Kondisi Bripda Iwan saat dibebaskan teroris

Dalam kondisi mata tertutup dan tak berdaya, Bripka Iwan menjelaskan jika ia tidak mengetahui siapa teroris yang berbicara saat itu.

“Saya tidak kenal karena ditutup mata saya, jadi saya tidak mengenalinya,” sambung Bripka Iwan.

Bripka Iwan Sarjana menggambarkan jika suasana saat itu di Mako Brimob benar-benar sangat mencekam.

“Sangat mencekam sekali, di antara pilihan hidup dan mati,” imbuhnya.

Kepada pewawancara, Bripka Iwan mengungkapkan jika saat disandera yang ia pikirkan adalah keluarga di rumah.

Yang kemungkinan tidak akan bisa ia temui lagi.

Dalam kondisi seperti saat itu, Bripka Iwan tetap menyimpan harapan dan kepercayaan yang tinggi jika pimpinan dan rekan-rekannya yang lain akan berusaha untuk menyelamatkannya.

 

Disekap selama 30 jam, mengaku saat itu ia merasa bahwa 99 persen mati, dan hanya satu persen untuk kemungkinan hidup.

Tapi kemungkinan 1 persen itulah yang diberikan Tuhan kepadanya.

“Saya disekap, diikat, saya berpikir persentase saya 99 persen mati 1 persennya hidup, nah satu persen itulah Allah kasih kepada saya.

Bripka Iwan menyatakan jika dirinya dibebaskan ketika para napi meminta logistik makanan.

Terakhir, ia tidak lupa mengungkapkan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya rekan-rekannya dalam insiden tersebut.

“Saya turut berduka cita, atas meninggalnya teman-teman terbaik saya, tim solid saya, rekan-rekan saya yang hebat, yang sudah memperjuangkan negara ini dengan titik darah penghabisan.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu terjadi, saya sangat menyesalinya.

Dan saya juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada pimpinan yang telah memperjuangkan nasib anak buahnya, walau saat itu saya masih disandera,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berpesan agar rekan-rekannya di Polri tetap semangat dalam memberantas kekejaman para teroris dan tak takut.

Simak selengkapnya dalam video di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: